Mengenal Definisi, Jenis-Jenis, dan Komponen Ilmu Semiotika

post thumbnail

Menurut sejarahnya, ilmu semiotika sudah dikenal sejak akhir abad ke-19. Namun, cabang ilmu ini baru berkembang pada pertengahan abad ke-20. Pada mulanya, semiotika merupakan bagian dari ilmu filsafat, kemudian dikenal dalam dunia bahasa dan sastra. Saat ini, semiotika juga banyak digunakan dalam bidang seni, khususnya seni rupa.

Perkembangan tersebut membuat semiotika memiliki banyak pengertian. Lalu, apa sebetulnya yang dimaksud dengan semiotika menurut para ahli? Apa saja jenis-jenis serta komponen penyusun semiotika? Simak penjelasan berikut ini.

Definisi Ilmu Semiotika Menurut Para Ahli

Untuk mengetahui makna atau definisi semiotika, terlebih dahulu kita pahami asal katanya. Semiotika berasal dari kata “semeion” yang dalam bahasa Yunani berarti “tanda”.

Semiotika adalah disiplin ilmu dan metode analisis yang mengkaji tanda-tanda pada suatu objek agar makna yang terkandung dalam objek tersebut dapat diketahui dan dipahami. Tanda menyimbolkan sesuatu dan makna adalah hubungan antara objek dengan ide dari tanda yang pada objek tersebut.

Terdapat beberapa definisi tentang semiotika menurut para ahli. Berikut di antaranya

1. Menurut Alex Sobur

Semiotika secara terminologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek, peristiwa, dan seluruh kebudayaan sebagai suatu tanda.

2. Menurut A. Teeuw

Semiotika adalah model sastra yang mempertanggungjawabkan seluruh faktor dan aspek hakikinya. Semiotika berfungsi untuk memahami gejala sastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat.

3. Menurut Van Zoest

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda, berfungsinya tanda, dan produksi makna. Pengertian tanda sendiri adalah sesuatu yang memiliki arti lain bagi seseorang atau segala sesuatu yang dapat diamati. Tanda tidak terbatas pada benda, tetapi bisa juga peristiwa atau kebiasaan.

Dalam pandangan semiotika, sebuah karya seni merupakan komposisi dari tanda-tanda (simbol, indeks, ikon). Sebuah karya seni dapat diamati dengan menggunakan pendekatan semiotika, khususnya semiotika visual.

Dengan menggunakan analisis ilmu semiotika, kita dapat memahami tujuan, perasaan, dan ekspresi yang ingin disampaikan oleh seorang seniman kepada para pemirsa melalui komposisi tanda yang terdapat di dalam karya seninya.

Jenis-Jenis Semiotika

Seperti juga definisinya yang bermacam-macam, pendapat tentang jenis-jenis semiotika pun berbeda-beda. Ada yang membagi semiotika dalam 2 jenis kajian, ada pula yang membedakannya menjadi 9 jenis.

Menurut Hoed, ilmu semiotika dapat dibagi ke dalam dua jenis kajian, yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Adapun pengertian kedua jenis kajian tersebut adalah sebagai berikut.

  • Semiotika Komunikasi

Fokus utama semiotika komunikasi ada pada teori tentang produksi tanda dengan mengasumsikan adanya enam faktor komunikasi, yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan).

  • Semiotika Signifikasi

Berbeda dengan semiotika komunikasi, semiotika signifikasi lebih menekankan pada teori dan pemahaman tentang tanda dalam konteks tertentu. Dalam hal ini, proses kognisi atau pemahaman tentang suatu tanda lebih penting daripada komunikasinya.

Sementara itu, pakar lainnya, yaitu Pateda, membagi semiotika dalam 9 jenis berbeda sebagai berikut.

  • Semiotika Analitis

Semiotika analitis adalah ilmu semiotika yang menganalisis sistem tanda menjadi ide, objek, dan makna. Ide berkaitan dengan lambang, sedangkan makna merupakan beban yang terdapat di dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.

  • Semiotika Deskriptif

Semiotika deskriptif adalah semiotika yang memberi perhatian pada sistem tanda yang ada sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tidak berubah dan masih tetap sama seperti yang bisa disaksikan saat ini.

Contoh semiotika deskriptif adalah bahwa langit yang mendung merupakan tanda akan segera turun hujan. Tanda ini berlaku dari dulu hingga sekarang. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Banyak tanda baru yang diciptakan manusia.

  • Semiotika Kultural

Semiotika kultural mempelajari dan menelaah sistem tanda yang terdapat dalam kultur atau kebudayaan masyarakat tertentu. Kekayaan budaya Indonesia adalah contoh nyata dari ilmu semiotika kultural, dimana setiap suku memiliki tradisi dan budaya yang memiliki tanda-tanda khusus yang membedakannya dengan suku lain.

  • Semiotika Naratif

Dalam semiotika naratif, sebuah narasi berupa mitos dan cerita lisan atau dongeng (folklore) dianggap mengandung sistem tanda tertentu karena mitos atau cerita rakyat memiliki nilai kultural yang tinggi.

  • Semiotika Normatif

Semiotika normatif khusus menelaah sistem tanda yang sengaja dibuat oleh manusia dalam bentuk norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contohnya adalah rambu-rambu lalu lintas.

  • Semiotika Sosial

Dapat dikatakan, semiotika sosial merupakan semiotika yang menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa. Pada semiotika sosial, sistem tanda yang dihasilkan manusia berwujud lambang, baik lambang berupa kata maupun kalimat.

  • Semiotika Struktural

Semiotika struktural adalah ilmu semiotika yang secara khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan dalam struktur bahasa. Dalam semiotika struktural, komponen tanda diikat oleh jaringan hubungan antar komponen yang disebut sistem.

  • Semiotika Faunal

Semiotik faunal atau disebut juga zoo semiotic adalah semiotika yang memperhatikan secara khusus sistem tanda yang dihasilkan oleh binatang. Pada umumnya, fauna menghasilkan tanda-tanda tertentu sebagai cara berkomunikasi dengan sesamanya, tetapi ada juga tanda-tanda yang dapat ditafsirkan oleh manusia.

Contoh sederhana semiotika faunal adalah suara ayam betina yang berkotek-kotek merupakan tanda bahwa ayam tersebut baru saja bertelur. Contoh lainnya adalah gajah yang berlari menuju tempat lebih tinggi menandakan akan datangnya tsunami.

  • Semiotika Natural

Hampir sama dengan semiotika faunal, ilmu semiotika natural menelaah sistem tanda yang ada pada fenomena alam yang dapat dibaca sebagai pengetahuan bagi manusia. Contohnya adalah air sungai yang keruh menandakan hujan turun di bagian hulu, daun yang meranggas menandakan datangnya musim kemarau, dan banjir sebagai tanda bahwa alam telah rusak.

Komponen Dasar Semiotika

Untuk memungkinkan terjadinya komunikasi antara subjek dan objek, ilmu semiotika mencakup tiga komponen dasar, yaitu tanda (sign), lambang (symbol), dan isyarat (nal). Agar Anda bisa memahami ketiga komponen dasar tersebut dengan lebih jelas, simak uraian berikut ini.

  • Tanda (Sign)

Komponen semiotika yang pertama adalah tanda, yakni bagian yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menjelaskan atau memberitahukan objek kepada subjek. Tanda selalu menunjukkan pada hal yang nyata, seperti benda, tulisan, bahasa, tindakan, dan peristiwa.

  • Lambang (Symbol)

Lambang merupakan sesuatu yang mengarahkan pemahaman subjek terhadap objek. Lambang selalu dikaitkan dengan tanda-tanda yang bersifat kultural, kondisional, dan situasional serta memiliki makna dinamis, subjektif, khusus, kias, dan majas. Lambang terdiri dari lambang warna, benda, bunyi, nada, suasana, dan tipografi.

  • Isyarat (Nal)

Isyarat adalah keadaan atau hal yang diberikan subjek kepada objek untuk memberitahukan kepada objek yang diberi isyarat saat itu. Isyarat bersifat temporal atau tergantung waktu dan jika pemakaiannya ditunda, isyarat berubah menjadi tanda atau lambang.

Hingga sekarang, ilmu semiotika telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Melalui tanda, simbol, dan isyarat, informasi menjadi lebih mudah dan lebih cepat dipahami dibandingkan dengan menggunakan bahasa percakapan yang panjang. Semiotika membuat sebuah pesan menjadi ringkas, praktis, dan menarik.